Perbedaan otak albert einstein dengan manusia biasa – bagaimana sih kejeniusan otak mbah albert einstein?.
Banyak orang yang mencari misteri otak jenius Albert Einstein. Tak tanggung-tanggung pencarian di internet setiap hari selalu saja ada tentang Albert Einstein.
Sewaktu saya masih kuliah dulu, Teman selalu bertanya tentang perbedaan otak Albert Einstein dengan manusia lainnya.
Ini juga yang menjadi rasa penasaran saya bertambah akan perbedaan otak Albert Einstein. Secara gitu loh, Albert Einstein ini adalah icon orang cerdas di dunia.
Pembahasan ini sangat unik untuk kali ini, baiklah akan Saya jelaskan bagaimana perbedaan otak Albert Einstein dengan manusia biasa.
Baca Juga: Fakta Unik Orang Cerdas.

Perbedaan otak Albert Einstein dengan manusia biasa

Saya telah merangkum sumber dari beberapa sumber mengenai artikel kali ini.
Menurut sumber dari majalah forbes:
Sebelum melihat perbedaan antara otak, pertimbangkan bahwa otak kita sendiri menunjukkan kemampuan yang sangat berbeda tergantung pada aktivitas/rasa apa yang kita lakukan.
Misalkan kelaparan, kelelahan / kurang tidur / tidur, mabuk, dalam pengobatan, kesal, demam, dll.
Karena itu, seseorang membutuhkan lebih dari sekedar melihat otak untuk memprediksi fungsinya.
Daniel Amen menemukan bahwa seseorang yang perhatian kepada hal yang tertentu akan menunjukkan lebih banyak aktivitas otak di lobus frontal. Bagian ini adalah bagian otak yang menunjukkan perilaku yang lebih baik.
Dr Bennet Omalu menemukan bahwa otak pemain NFL (National Football League) yang tampil normal dalam pemindaian MRI, menunjukkan saat diautopsi, memiliki beberapa neuron yang rusak.
Perilaku kekerasan, kebingungan, depresi, dan kehilangan memori dikaitkan dengan para pemain ini saat masih hidup. Dengan demikian, tatapan dangkal pada pemindaian otak tidak cukup untuk memprediksi fungsinya.
Nah, apakah Anda mengerti? pasti Anda bingung. Pada awalnya juga saya bingung.
Tapi akan saya trik kesimpulannya.
Inti dari penjelasan di atas adalah untuk melihat kemampuan suatu otak bukanlah dilihat dari apa fungsinya. Tapi seberapa banyak suatu aktifitas yang dilakukan.
Baca Juga: Hal yang Tidak Dilakukan Orang Pintar.

Lantas apa ciri dan perbedaan otak Albert Einstein dengan manusia biasa?

Meskipun Einstein telah meminta untuk dikremasi, pada saat wafatnya (tanpa sepengetahuan keluarganya). Namun ada kabar bahwa Dr. Thomas Harvey mengambil otak Albert Einstein untuk diteliti.
Ada banyak deskripsi tentang pengamatan Harvey yang bertahun-tahun.
Dr. Harvey menjaga otak Alber Einstein di tong dalam pendingin bir selama beberapa dekade sebelum akhirnya memberi bagian otak tersebut pada ahli neuroanatomis untuk dipelajari.
Dalam membaca beragam temuannya, Harvey pertama kali memotret otak Einstein dan kemudian memetakan menjadi 240 blok sebelum didistribusikan. Hal ini membuat banyak “spekulasi” tentang misteri dari otak Albert Einstein.
Pertimbangkan juga bahwa Einstein berusia 76 tahun pada saat kematiannya. Sehingga perubahan otak terkait usia, seperti penipisan korteks serebral, harus diperhitungkan.
Di antara fitur utama yang membedakan otaknya dengan manusia biasa adalah jumlah Sel Glial Otak (sebuah bagian otak yang masih misteri), gyrus ekstra di lobus parietalis.

Baca Juga: 7 Karakteristik Orang Cerdas Secara Genetik.

Perhatikan gambar perbedaan otak albert einstein dengan manusia biasa di bawah ini:

Perbedaan otak Albert Einstein dengan manusia biasa

Foto-foto otak menunjukkan celah Sylvian yang membesar. Pada tahun 1999, analisis lebih lanjut oleh tim di McMaster University di Hamilton, Ontario mengungkapkan bahwa daerah operetulum parietal di gyrus frontal inferior di lobus frontal otak kosong.
Juga tidak ada bagian dari daerah perbatasan yang disebut sulkus lateral (fisura Sylvian).
Periset di Universitas McMaster menduga bahwa kekosongan itu memungkinkan neuron di bagian otak ini untuk berkomunikasi dengan lebih baik.
“Anatomi otak yang tidak biasa ini mungkin menjelaskan mengapa Einstein menjadi pemikir cerdas” kata Profesor Sandra Witelson yang memimpin penelitian yang diterbitkan di The Lancet.
Penelitian ini didasarkan pada foto-foto seluruh otak yang dibuat pada otopsi pada tahun 1955 oleh Harvey, dan bukan pemeriksaan langsung otak.

Einstein sendiri mengklaim bahwa ia berpikir secara visual dan bukan secara verbal.

Sel Glial Otak Albert Einstein

Marian C. Diamond membandingkan rasio sel glial di otak Einstein dengan otak yang diawetkan dari 11 orang lainnya.
Fungsi Sel glial memberikan dukungan dan nutrisi di otak, membentuk myelin, berpartisipasi dalam transmisi sinyal, dan merupakan komponen integral otak selain neuron.
Otak Einstein memiliki lebih banyak sel glial yang relatif terhadap neuron di semua area yang diteliti, namun hanya di daerah parietalis inferior kiri. Hal itu menjadi perbedaan yang signifikan secara statistik.
Daerah sel glial, Daerah ini merupakan bagian dari perkumpulan korteks, daerah otak ini juga yang bertanggung jawab untuk menggabungkan dan mensintesis informasi dari berbagai daerah otak lainnya.
Peneliti Diamond mendapati bahwa ia hanya memiliki 12 sampel subjek, dan hanya satu di antaranya yang jenius.
Menurut Diamond, ia telah menemukan laporan yang bertentangan dalam literatur.

Baca Juga: Tes Otak dan Kemampuan Berpikir.

Berikut ini keterangan diambil dari korteks serebral Albert Einstein: deskripsi dan analisis awal dari foto-foto.

  • 2013 Apr; 136 (4): 1304-1327, Diamond menemukan bahwa:
  • (1985) rasio neuron pada lobulus parietal inferior kiri (lih Hines, 1998).
  • Anderson dan Harvey (1996) menemukan kepadatan neuronal yang lebih besar pada lobus frontalis kanan.
  • Kigar dkk (1997) melaporkan adanya peningkatan glial: rasio neuron pada neokorteks temporal bilateral.
  • Witelson et al. (1999) mengamati hamparan lobulus parietal inferior bilateral yang lebih besar.
  • Colombo (2006) menemukan proses astrositik yang lebih besar dan lebih banyak lagi jumlah massa terminal interlaminar.
  • Studi Falk (2009) mendokumentasikan anatomi yang tidak biasa di dalam dan sekitar somatosensori primer dan korteks motorik.
  • Einstein jugs memiliki korteks prefrontal yang relatif meluas, yang mungkin telah memberikan dukungan untuk beberapa kemampuan kognitifnya yang luar biasa. Termasuk penggunaan eksperimen pemikirannya yang produktif.
  • Morfologi yang tidak biasa pada lobus parietal Einstein, mungkin telah menyediakan substrat neurologis untuk kemampuan visuospatial dan matematisnya.” (Witelson et al., 1999a, b).

Jadi saya pikir ini agak awal untuk memberikan jawaban pasti.

Dengan kata lain, mungkin ada perbedaan struktural yang menyebabkan variasi dalam kepribadian dan fungsi.
Tapi perbedaan otak pada kembar identik, yang otaknya dibuat dari cetak biru yang sama, juga menunjukkan perbedaan perilaku dan tidak selalu sesuai untuk gangguan kejiwaan tertentu.
Pada dasarnya manusia akan cerdas jika terus belajar dan belajar.
Nah itulah di atas Perbedaan otak Albert Einstein dengan manusia biasa. Semoga bermanfaat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This div height required for enabling the sticky sidebar