BAB I
PENDAHULU

1. Latar belakang

Berbicara Ilmu Ushul Nahwu, tidak akan terlepas dari aliran-aliran nahwu yang berada di tempat atau kota-kota sesuai dengan perkembangan ilmu gramatika tersebut. Ilmu tersebut berkembang dengan seiring majunya dan luasnya daerah Islam.

Aliran-aliran tersebut ada kaitannya dengan penyebaran ilmu nahwu, diantara penyebaran ilmu nahwu pertama kali adalah di Makkah, Madinah dan Basrah, hal ini wajar mengingat memang al-Qur’an lahir disekitar daerah tersebut serta kota-kota tersebut memang pusat lahirnya peradaban Islam. Baru beberapa decade selanjutnya ilmu nahwu berkembang di daerah Kuffah, Baghdad, Andalus, dan Mesir.

Aliran-aliran yang sangat banyak tersebut kami hanya mengambil satu pembahasan yang mendalam yaitu aliran Basrah, meliputi sejarah kelahiran, konsep nahwu menurut aliran Basrah, prodak nahwu menurut aliran Basrah, serta beberapa tokoh aliran basrah, sedangkan aliran yang lainnya seperti Kuffah, Baghdad dan Mesir kami hanya membahasnya sekilas saja mengingat pembahasan aliran-aliran tersebut akan dibahas oleh pemakalah selanjutnya.
Dengan memahami aliran-aliran ini dari mulai kemunculan, konsep nahwu, produk nahwu, serta beberapa tokoh aliran Basrah diharapkan dapat memahami suatu kebahasaan dari akar bahasa itu diputuskan kedudukan hukumnya dalam ilmu nahwu itu sendiri muncul serta dapat memberikan sebuah kontribusi dalam bidang ilmu nahwu secara umum. Karena dengan memahami aliran-aliran ini kita bias mengerti asal-usul suatu kedudukan bahasa dalam ilmu nahwu, juga singkronisasi diantara kedudukan bahasa yang ada dengan sumber pengambilan hukumnya yaitu al-Qur’an, syair dan kalam Arab al-Fasihah. Semoga dapat memberikan tambahan wawasan bagi penulis khususnya dan juga bagi para pembaca pada umumnya. Amin.

2. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini dapat dibagi menjadi dua tujuan besar yaitu Main Purpose (tujuan Umum) dan Special Purpose (tujuan khusus). Tujuan umum penulisan makalah ini adalah mahasiswa dapat memahami secara umum aliran-aliran nahwu yang ada, sehingga dapat berfikir secara logis serta dapat mengambil kesimpulan dengan obyektif akan aliran-aliran tersebut. Sedangkan tujuan khusus dari penulisan malakah ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat Mengetahui Aliran-Aliran Nahwu
2. Dapat Mengetahui Sejarah Aliran Nahwu Basrah
3. Dapat Mengetahui Paradigma Aliran Nahwu Basrah
4. Dapat Mengetahui Konsep Nahwu Aliran Basrah
5. Dapat Mengetahui Karakteristik Nahwu Aliran Basrah

3. Rumusan masalh
1. Apa saja aliran nahwu secara Umum?
2. Bagaimana Sejarah Aliran Nahwu Basrah ?
3. Bagaimana Paradigma Aliran Nahwu Basrah ?
4. Bagaimana Karakteristik Nahwu Aliran Basrah ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Madrasah (Aliran) Nahwu Secara Umum

Kelahiran ilmu nahwu dipicu oleh berbaurnya Bangsa Arab dengan bangsa lain, ketika terjadi rangkaian-rangkaian usaha penyebaran agama Islam dan penghapusan kedaliman. Keberhasilan “dakwah” mengharuskan kaum Arab berdomisili di tempat barunya, terutama para tentara, agar tetap terjaga stabilitas. Perlu sosialisasi, maka merekapun berkomunikasi dengan masyarakat baru tersebut, dengan menggunakan bahasa ibunya, Arab. Ada proses peniruan oleh masyarakat, dalam proses itu timbul kesalahan-kesalahan. Dari sini tersusunlah kemudian ilmu nahwu yang pada perkembangan selanjutnya menjadi suatu disiplin yang tidak boleh ditinggalkan bagi siapapun yang ingin mengerti dan mendalami agama Islam.
Setelah tersusunnya ilmu gramatikal bahasa Arab dan banyaknya para ulama yang telah memperjelas ilmu tersebut. Hal ini, mengakibatkan timbulnya aliran-aliran dalam ilmu nahwu, yang disebabkan adanya khilaf dikalangan para ulama nahwu dalam menentukan posisi (mahal) kata dalam suatu kalimat. Beda persepsi ini, tidak luput dari pengaruh daerah para ulama tersebut menetap. Diantara aliran-aliran ilmu nahwu (Madaaris an-Nahwiyah) tersebut menurut Syauqi Dhoif[ ]:
1. Aliran (madrasah) Al-Basrah,
2. Aliran (madrasah) Kufah,
3. Aliran (madrasah) Baghdad,
4. Aliran (madrasah) Andalus,
5. Aliran (madrasah) Mesir.
Ilmu nahwu pada mulanya lahir dan tumbuh di Bashrah, namun kemudian pada periode-periode berikutnya tersebar ke negeri-negeri Islam lainnya. Ada beberapa manfaat dari mempelajari nahwu, di antaranya; dapat memahami dengan benar susunan kata-kata Bahasa Arab yang terdapat pada literatur-literatur hukum Islam (al-Qur’an, al-Hadits dan kitab-kitab Fiqh), dapat menyusun kata-kata Bahasa Arab dalam susunan yang sesuai dengan kaidahnya, dan dapat menentukan kedudukan-kedudukan kata dan dapat mengambil pengertiannya dengan benar.
Namun, aliran (madrasah) yang paling terkenal dalam kitab-kitab nahwu hanya dua, Basrah dan Kufah. Keduanya disebut sebagai aliran utama, karena keduanya mempunyai otoritas dan independensi yang tinggi, kedua aliran tersebut juga mempunyai pendukung yang banyak dan fanatik, sehingga mampu mewarnai aliran-aliran berikutnya. Adapun tiga aliran yang lain disebutnya sebagai aliran turunan yang berinduk pada salah satu aliran utama atau merupakan hasil paduan antara keduanya.[ ]

Perkembangan dan penyebar luasan ilmu nahwu di Bashrah ini tidak lepas dari peranan Madrasah al-Bashriyah, sebuah lembaga pendidikan khusus yang dibentuk untuk membina nahwu di Bashrah yang didirikan pada masa Khalil ibn Ahmad al-Farahidi. Dari Madrasah ini lahir ulama-ulama nahwu lainnya seperti; al-Akhfasy, al-Riyasyi, al-Mazini, al-Mubarrad dan al-Yazidi.

B. Sejarah Aliran (madrasah) Basrah
Menilik masa perkembangan ilmu nahwu, ada 4 (empat) fase. Pertama, masa peletakan dan penyusunan. Ini berpusat di Bashrah, sejak peletakan pertama oleh Abu al-Aswad sampai al-Khalil ibn Ahmad. Kedua, masa pertumbuhan, yaitu masa perkembangan di mana kiblat nahwu sudah dua arah Bashrah dan Kufah. Tokoh pada fase ini Abu Ja’far Muhammad ibn al-Hasan al-Ru’asi, Abu Utsman al-Mazini al-Bashri dan Ya’qub ibn al-Sikkit al-Kufi. Ketiga, fase kematangan dan penyempurnaan. Otoritas ilmu nahwu pada masa ini masih berada di tangan ulama-ulama di kedua kota tersebut. Mereka itu, selain kedua tokoh di atas adalah al-Mubarrad al-Bashri dan Tsa’lab al-Kufi. Keempat, fase terakhir nahwu sudah menyebar ke berbagai kota, seperti Baghdad, Mesir, Syiria, dan Andalusia. Penyebar nahwu di kota-kota ini adalah para alumni madrasah-madrasah yang berada di Bashrah dan Kufah (Dlaif, 1976: 27).

Menurut Muhammad al-Thanthawi, pesatnya aliran Basrah didukung oleh situasi-situasi berikut[ ]:
Pertama, banyak warga Bangsa Arab dari suku yang dikenal fasih dalam tradisi berbahasa Arab mengungsi ke Bashrah, terutama dari suku Qais dan Tamim. Kedua, adanya pasar “al-Mirbad” di Bashrah. Pasar ini kedudukannya seperti pasar “Ukadh” di Arab pada zaman jahiliyah. Di pasar ini, para sastrawan (penyair), ahli sejarah dan ahli bahasa berkumpul untuk “beradu” kemampuan. Dari sini pula para ahli nahwu mendapatkan sesuatu sebagai rujukan kaidah nahwunya. Ketiga, posisi geografis yang mendukung kemurnian Bahasa Arab. Bashrah berada di tengah padang sahara, sebelah selatan laut dan sebelah baratnya Lembah Najd.

Usaha yang dilakukan pertama kali oleh Abu al-Aswad bersama dengan dua orang muridnya Nashr ibn Ashim dan Abdurrahman ibn Hurmuz baru sampai pada usaha memberi harakat di huruf terakhir kata-kata yang terdapat dalam al-Qur’an dan memberi titik pada huruf-huruf Hija’iyyah, agar bisa dibedakan antara huruf satu dengan lainnya. Misalnya (ب, ت, ث), (ج, ح, خ) dan sebagainya.

Dasar-dasar yang diletakkan itu kemudian dikembangkan oleh ulam-ulama berikutnya yang juga merupakan murid-muridnya, seperti Abdullah ibn Abi Ishaq al-Hadrami , ulama nahwu pertama di Bashrah yang dikatakan sebagai “pakar intelektual nahwu Bashrah. Ulama lain adalah Isa ibn Umar al-Tsaqafi yang menyusun dua kitab nahwu “al-Jami’ dan al-Ikmal”dan Khalil ibn Ahmad al-Farahidi al-Bashri yang merupakan murid dari Abu Ishaq. Mereka mengembangkan kaidah-kaidah yang telah dibuat gurunya dengan mempertajam kajian nahwu memperkuat dasar-dasar dan menetapkan fondasinya. Khalil ibn Ahmad sendiri adalah ulama yang membuat kaidah-kaidah tentang mabni, musytaq, i’lal, badal, amil dan ma’mul. Di samping itu ia menetapkan kaidah-kaidahsama’i, qiyas, dan ta’lil. Dia pula yang pertama menemukan rima musik Arab dan ilmu Arud.

Perkembangan dan penyebar luasan ilmu nahwu di Bashrah ini tidak lepas dari peranan Madrasah al-Bashriyah, sebuah lembaga pendidikan khusus yang dibentuk untuk membina nahwu di Bashrah yang didirikan pada masa Khalil ibn Ahmad al-Farahidi. Dari Madrasah ini lahir ulama-ulama nahwu lainnya seperti; al-Akhfasy, al-Riyasyi, al-Mazini, al-Mubarrad dan al-Yazidi.

C. Paradigma Ulama’ Nahwu Bashrah

Ulama’ bashrah menggunakan dalil qiyas sebagaimana menggunakan sama’. Berbeda dengan ulama’ kuffah, ulama’ bashrah menolak menggunakan dalil dengan syawahid yang tidak jelas penuturnya.[ ] Dan mereka menganggap bahwa syawahid yang didapat dari sembarang orang dan terdapat syadz, maka tidak bisa dijadikan dasar hukum.
Ulama’ bashrah berpendapat bahwa ulama’ kuffah mengambil semua yang mereka dengar dari orang Arab untuk dijadikan ashl (maqis alaih). Seolah-olah ulama’bashrah ingin berkata: ulama’ kuffah tidak dapat dipercaya dalam menetapkan ashl, karena mereka mengqiyaskan terhadap sesuatu yang jarang (naadir) dan janggal (syadz).
Imam sibawaih sangat memperhatikan sama’. Dia dan para ulama; bashrah lainnya sangat berhati hati dalam sama’ sebagaimana mereka berhati- hati dalam qiyas. Mereka tidak mengambil dalil kecuali dari orang yang dipercaya ke-arab-annya dari segi fashohah dll.
Dan imam suyuthhi mengungkapkan: bahwa ulama’ bashrah lebih shahih dalam hal qiyas karena mereka tidak mengambil dalil dari setiap yang mereka dengar, dan tidak mengqiyaskan terhadap sesuatu yang syadz. Adapun ulama’ kuffah itu lebih luas riwayatnya.

D. Konsep Aliran (Madrasah) Nahwu Bashrah

Shalah Rawwa dalam kitabnya “al Nahw al Arabi: Nasy’atuhu Tathowuruhu, Madarisuhu, Rijaluhu,” menegaskan bahwa paradigma atau metode Basrah diantaranya:
Mereka mengambil data bahasa Arab fusha yang disampaikan oleh orang-orang yang belum terkontaminasi, Orang yang menerima infortamasi diharuskan orang tsiqoh, Data bahasa yang ada harus banyak sehingga tidak bertentangan dengan data yang lain.
Ulama’ nahwu Basrah menetapkan suatu hukum dengan landasan menetapkan untuk berpegang pada sumber-sumber dibawah ini sebagai landasan hukumnya:
1. Alqur’an
Al-Qur’an dan Qiroat-qiroatnya adalah sumber yang paling akurat bagi Sibawaih ketika dia menetapkan kaidah–kaidah penulisan ushul nahwu, pada nash Al-Qur’an tidak ada perbedaan didalamnya karena merupakan redaksi langsung dari Allah SWT. Perbedaan itu hanya terdapat pada bacaan-bacaannya. Sehingga Al-Qur’an menjadi contoh paling tinggi yang menjadikan para fuqoha dan para ulama bahasa condong serta merujuk kepada Al-Qur’an, yang mana dengan Alqur’an, mereka meletakkan kaidah-kaidah nahwu dan dasar-dasar nahwu, dan Sibawaih adalah ulama nahwu yang paling berpedoman pada Al-Qur’an dan yang paling memuliakan Al-Qur’an selain itu Sibawaih juga memempatkan Al-Qur’an dalam tingkatan pertama, karena Al-Quran merupakan kalam yang paling fashih dengan isi nash yang paling tepercaya, karena redaksi Alqur’an menyerupai bahasa arab yang asli dengan tata bahasanya sangat baik juga mengkhithob orang-orang arab dengan bahasa mereka sesuai dengan yang mereka harapakan.
Imam Sibawaih menjadikan al-qur’an sebagai asas dalam pengambilan sebuah dalil, pada umumnya Sibawaih menulis sebuah bab berdasarkan dari apa yang ia telah jelaskan dan memberikan contoh-contoh yang dikiaskan pada Al-Qur’an lalu menyebutkan ayat-ayat dalam Alqur’an yang sesuai dengan contohnya. Selain itu Sibawaih juga menyebutkan contoh-contoh yang ia dengar langsung dari orang arab atau contoh-contoh yang diriwayatkan dari orang yang mendengarkannya, dan yang didengarkan dari para guru-gurunya juga dari orang yang tepercaya dalam periwayatanya berupa syi’ir-syi’ir arab.[ ]
2. Kalam Arab
Selain Al-Qur’an, ulama’ nahwu Basrah juga berpedoman kepada kalam Arab yang
fasih yang tidak tercampur dengan bahasa lain dengan kata lain yang masih murni.
ada dua jenis kalam Arabi dalam kaitaanya dengan ushul Nahwu , Yaitu

1. Syi’ir
Imam Sibawaih menetapkan dalam sebuah bab dalam kitabnya hal-hal yang berkaitan dengan syi’ir, ia berkata tentang sesuatu yang membolehkan dan tidak diperbolehkanya penyair untuk melakukan dlorurot syi’ir dalam kalam, yaitu seperti pemberian harokat tanwin kepada lafadz yang tidak boleh ditanwin dan membuang hal-hal yang tidak boleh dibuang.
2. Natsr
Kalam Arab adalah sumber ketiga sebagai dalil dalam ilmu bahasa dan nahwu, namun yang dimaksud disini adalah kalam dari suku-suku Arab yang dapat dpercaya akan kefashihan dan kemurnian bahasanya baik itu kalam atsar maupun kalam syi’ir. Sebelum diutusnya Nabi, pada zaman Nabi dan setelahnya sampai dengan penduduk asli Arab, sudah terkontaminasi oleh bahasa orang non Arab. Para ulama ahli bahasa hanya tertuju pada bahasa yang dimiliki oleh kabilah atau suku yang disepakati akan kefashihannya dan kemurnian bahasanya. Kabilah yang menduduki posisi tertinggi ketika itu adalah bahasa kaum Quraisy, hal itu dikarenakan suku Quraisy adalah suku Arab yang paling berkualitas dan bahasa kaum Quraisy paling mudah pengucapannya, paling indah didengarkan, dan lebih ekspresif pengungkapannya.
Para ulama Bashrah sepakat untuk mengambil dalil-dalil dari golongan pertama dan kedua Kebanyakan dari ulama Bashrah tidak mengambil dalil-dalil dari golongan ketiga, namun Ulama Baghdad berpendapat bahwa yang benar adalah diperbolehkannya mengambil dalil syi’ir dari golongan ketiga. Sementara itu Abu Umarbin al-Alaa’, Abdullah bin Abi Ishaq, Hasan al-Bashri, dan Abdullah bin Syibromah menganggap adanya salah dalam hal bahasa dari Farozdaq, Al-Kumaid dan Dza al-Romah juga sesamanya. Dan mereka dianggap dari golongan Al-Muwalladun karena mereka hidup pada masa golongan Al-Muwalladun. Dan hidup dalam satu masa “Muwalladun” adalah sebuah penghalang.
Adapun kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh kelompok Bashrah, diantaranya[ ]:

1. Shifat hanya beramal pada nafi, istifham, dan maushuf. Baik itu secaramaknawi, lafdhi ataupun taqdir (dikira-kirakan).
2. Yang merafa’kan mubtada’ adalah ibtida’ (karena posisinya di awal kalimat)
3. Rofa’nya Khobar dengan mubtada’
4. Fiil memberikan amil pada fail dan maful
5. Fiil yang kedua itu amil dalam bab tanazu’
6. Marfu’nya khobarnya Inna karena Inna.
7. Dhorof yang menjadi khobarnya mubtada’ itu Nasab dengan fiil yang dikira-kirakan.
8. Nasabnya mustasna’ dengan fiil atau dengan fiil yang ditengahi Illa
9. Mudz dan mundzu itu keduanya mubtada’ dan setelahnya itu khobar atau keduanya huruf jer dan setelahnya itu majrur karenanya.
10. Fi’il harus mudzakar ketika digunakan untuk isim mudzakar, dan harusmu’anats ketika untuk isim mu’anats.
11. Mashdar adalah asal dari kalimat, sedangkan fi’il merupakan musytaqnya. Dengan kata lain mashdar adalah asal dari fi’il.
12. Na’ib fa’il tidak boleh diganti dengan dharf, jer majrur atau mashdarselam ada maf’ul bihi.
13. Tamyiz harus terbentuk dari isim nakirah
14. Kata (بئس) dan (نعم) adalah kata kerja, begitu pula fi’il ta’ajub
15. Tidak boleh membuat taukid dari isim nakirah.
16. Fi’il mudlari’ yang jatuh setelah (حتى), (أو) atau (فاء السببية) atau (واو المعية)dinashabkan dengan (أن ) yang harus tersimpan (mudlmar)
17. Fi’il mudlari’ mu’rab karena menyerupai isim fa’il.
18. Setelah (كى), أن tidak boleh ditampakkan, tetapi harus mudlmar (tersimpan)
19. (أن) Yang sudah dibuang (محذوفة) tidak bisa beramal lagi (tidak berfungsi manashabkan).
20. Nasabnya lafadz “لاتأكل السماك وتشربَ اللبن” itu dengan taqdir “أن”.

E. Karateristik Nahwu Bashrah

Diantara tokohnya adalah Abul Aswad Ad-Duali, Abdurrahman bin Hurmuz. Adapun karakteristik periode pertama ini adalah:
a. Tergabung dalam profesi Qori’. Para ulama Bashrah secara menyeluruh sebagai Qari Al-Qur’an, yang mempelajari hukum-hukumnya, yang haus akan bacaan al-Qur’an dan juga sebagai para perawi hadits.
b. Memberi perhatian khusus terhadap lahn dalam kalam Arab, dan dalam al-Qur’an dan menentang fenomena terlarang ini.
c. Mushaf-mushaf diberi titik dengan i‘rab yang dimulai oleh Abul Aswad Ad-Duali yang mendapat nasihat dari Ziyad ibn Abihi, kemudian diikuti oleh murid-murid setelahnya, sebagai penentangan terhadap lahn dalam al-Qur’an
d. Awal penysusunan ilmu nahwu mendapat petunjuk dari Imam Ali r.a yang diawali oleh Abul Aswad dan diikuti oleh murid-muridnya.

F. Tokoh Ulama’ Basrah yang Termasyhur
1. Abul Aswad Ad-Du’ali
Sebagian ahli mengatakan, peletak dasar Ilmu Nahwu adalah Abul Aswad Ad-Du’ali. Sebagian yang lain mengatakan, Nashr bin ‘Ashim. Ada juga yang mengatakan, Abdurrahman bin Hurmus. Namun, dari perbedaan perbedaan itu pendapat yang paling populer dan diakui oleh mayoritas ahli sejarah adalah Abul Aswad. Pendukung pendapat ini dari golongan ahli sejarah terdahulu antara lain Ibnu Qutaibah (wafat 272 H), Al-Mubarrad (wafat 285 H), As-Sairafiy (wafat 368 H), Ar-Raghib Al-Ashfahaniy (502 H), dan As-Suyuthiy (wafat 911 H), sedangkan dari golongan ahli nahwu kontemporer antara lain Kamal Ibrahim, Musthofa As-Saqa, dan Ali an- Najdiy Nashif.
2. Ibnu Abi Ishaq
Abdullah bin Ishaq (wafat 117H)[ ] ialah orang yang pertama merumuskan kaidah-kaidah nahwu, menerapkan prinsip-prinsip analogi, dan menerangkan berbagai alasan secara linguistis. Kepeduliannya terhadap prinsip analogi tidak hanya ia terapkan pada masalahmasalah nahwu, tetapi juga ia tanamkan pada pola berpikir murid muridnya. Dengan metode ini ia banyak menentang Farazdaq, seorang penyair ulung yang dinilainya banyak menyalahi kaidah bahasa Arab. Misalnya, ia menyalahkan Farazdaq dalam syairnya:
“wa ‘adldlu zama:nin ya bna marwa:na lam yada’
minal ma:li illa: mus-hatan aw mujarrafu”.
Kata mujarrafu (berakhir vokal /u/ karena dibaca rafa’) menurutnya tidak benar, karena menyalahi kaidah nahwu. Kata itu seharusnya di baca mujarrafa(berakhir vokal /a/ atau nashab) karena diathafkan pada mushatan. Dengan penentangannya itu ia ingin menunjukkan bahwa seorang penyair, bagaimanapun fasihnya, tidak boleh seenaknya menyalahi kaidah nahwu.
3. Sibawaehi
bahwasanya kitab Sibawaehi tidak pernah meninggalkan kosa kata yang berpatokan pada lisan orang arab kecuali pada tiga kata.
Adapun salah satu kaidah yang beliau tetapkan adalah “bahwasanya fi’il harus senantiasa dibarengi oleh isim sehingga akan membentuk suatu kalam. Dan sebaliknya, isim tidak membutuhkan fiil seperti contoh “الله إلهنا و عبد الله أخونا”.

4. Al-Maziny.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

A. Sejarah Aliran Nahwu
Masa perkembangan ilmu nahwu, ada 4 (empat) fase. Pertama, masa peletakan dan penyusunan. Ini berpusat di Bashrah, sejak peletakan pertama oleh Abu al-Aswad sampai al-Khalil ibn Ahmad. Kedua, masa pertumbuhan, yaitu masa perkembangan di mana kiblat nahwu sudah dua arah Bashrah dan Kufah. Tokoh pada fase ini Abu Ja’far Muhammad ibn al-Hasan al-Ru’asi, Abu Utsman al-Mazini al-Bashri dan Ya’qub ibn al-Sikkit al-Kufi. Ketiga, fase kematangan dan penyempurnaan. Otoritas ilmu nahwu pada masa ini masih berada di tangan ulama-ulama di kedua kota tersebut. Mereka itu, selain kedua tokoh di atas adalah al-Mubarrad al-Bashri dan Tsa’lab al-Kufi. Keempat, fase terakhir nahwu sudah menyebar ke berbagai kota, seperti Baghdad, Mesir, Syiria, dan Andalusia.

B. Sejarah Perkembangan Nahwu Basrah
Dasar-dasar yang diletakkan Abu Aswad Ad-Dauli kemudian dikembangkan oleh ulam-ulama berikutnya yang juga merupakan murid-muridnya, seperti Abdullah ibn Abi Ishaq al-Hadrami (w. 117 H./735 M.), ulama nahwu pertama di Bashrah yang dikatakan sebagai “pakar intelektual nahwu Bashrah. Ulama lain adalah Isa ibn Umar al-Tsaqafi yang menyusun dua kitab nahwu “al-Jami’ dan al-Ikmal”dan Khalil ibn Ahmad al-Farahidi al-Bashri (w. 175 H./791 M.) yang merupakan murid dari Abu Ishaq. Mereka mengembangkan kaidah-kaidah yang telah dibuat gurunya dengan mempertajam kajian nahwu memperkuat dasar-dasar dan menetapkan fondasinya.

C. Paradigma Ulama’ Nahwu Basrah
Ulama’ bashrah menggunakan dalil qiyas sebagaimana menggunakan sama’. Ulama’ bashrah menolak menggunakan dalil dengan syawahid yang tidak jelas penuturnya.Dan mereka menganggap bahwa syawahid yang didapat dari sembarang orang dan terdapat syadz, maka tidak bisa dijadikan dasar hukum.

D. Konsep Madrasah Bashrah
Ulama’ nahwu Basrah menetapkan suatu hukum dengan landasan menetapkan untuk berpegang pada sumber-sumber dibawah ini sebagai landasan hukumnya:
1. Al-Qur’an
2. Kalam Arab yang meliputi syair dan natsr.

E. Tokoh Ulama’ Basrah
1. Sibawaih
bahwasanya kitab Sibawaehi tidak pernah meninggalkan kosa kata yang berpatokan pada lisan orang arab kecuali pada tiga kata.
Adapun salah satu kaidah yang beliau tetapkan adalah “bahwasanya fi’il harus senantiasa dibarengi oleh isim sehingga akan membentuk suatu kalam. Dan sebaliknya, isim tidak membutuhkan fiil seperti contoh “الله إلهنا و عبد الله أخونا”.
2. Abul Aswad Ad-Du’ali
Para ahli dalam rangka mendukung Abul Aswad seagai tokoh peletak dasar Ilmu Nahwu. Satu riwayat yang cukup popular dan diakui keabsahannya oleh para ahli adalah bahwa Abul Aswad berjasa dalam member syakal (tanda baca) pada mushaf Al-Qur’an.
3. Ibnu Abi Ishaq
Keteguhannya berpegang pada analogi (qiyas) membuatnya tidak takut untuk kadang-kadang bertentangan dengan jumhurul qurra’. Sebagai contoh ia berbeda dengan mereka dalam membaca ayat “as sa:riqu was sa:riqatu faqtha’u: aydiya huma:…..”. Para qurra’ membaca as sa:riqu was sa:riqatu dengan rafa’ sebagaimubtada’, yang khaba’-nya berupa klausa faqtha’u: aydiya huma, sedangkanIbnu Abi Ishaq membacanya dengan nashab “ as sa:riqa wassa:riqata” sebagai maf’ul bih’objek pelengkap.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Madaris An-Nahwiyah baina Taswir wa Tasdiq wa Sual al-Kabir.Hal:14
2. Syauqi Daif, Madrasah al-Mishri, Al-Madârisun Nahwiyah, 1976. Darul Ma’arif. Kairo. Mesir
3. Tantowi Muhammad. Nasy’atu an-Nahwi wa Tarikhi Asyharun Nuhat.Hal:126-127
4. Ibrahim as-samara’i. madaris nahwiyah : 17
5. Khodijah Alkhaditsi. As-syahid Wa Ushulin Nahwi fi kitabi Sibawaih. Kuwait: Jami’atul Kuwait, 1974. Hal: 30-32
6. Madaris An-Nahwiyah.Hal:66-70
7. نزهة الباء 26

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This div height required for enabling the sticky sidebar