50 Orang Meninggal Dunia Dalam Insiden Penembakan Selandia Baru, Dan 4 Fakta Lainnya

Selandia Baru adalah salah satu negara yang dinyatakan paling aman di dunia namun status ini terusik ketika kejadian teror terjadi pada hari Jumat (15/03) lalu. Terjadi kasus penembakan masal dan peledakan bom yang dilakukan oleh beberapa orang (4 orang telah dinyatakan tersangka) dengan target umat Islam yang sedang menjalankan ibadah shalat Jumat. Insiden penembakan terjadi di dua tempat yaitu di Masjid Al Noor di pusat kota Christchurch, dan di Masjid Linwood yang masih berada di kota yang sama namun terletak di bagian timur.

Baca Juga : Tak Banyak yang Tau , Inilah 5 Fakta Kasus Penembakan di Selandia Baru

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyebut insiden yang memakan puluhan korban jiwa ini sebagai serangan teroris. Ardern menyebutkan bahwa pelaku yang melakukan penembakan dan juga peledakan bom sebagai orang yang memiliki pandangan ekstrim dan tidak memiliki tempat di Selandia Baru maupun di tempat lain di dunia. Berikut adalah fakta-fakta yang ada pada peristiwa teror ini.

Satu orang telah didakwa kasus pembunuhan

Satu orang pelaku bernama Brenton Tarrant, pria kulit putih berusia 28 tahun telah didakwa dengan pasal pembunuhan oleh pihak otoritas Selandia Baru. Dua orang lainnya ditahan di kepolisian setelah empat orang, tiga pria dan satu wanita, ditangkap sebagai tersangka. PM Ardern mengatakan bahwa tidak ada satu pun dari 4 orang tersangka yang memiliki riwayat tindakan kriminal dan tidak ada di antara mereka yang masuk ke dalam daftar pengawasan badan intelijen Australia maupun Selandia Baru. Wali Kota Christchurch Lianne Dalziel mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa ini adalah serangan yang direncanakan. Didesain oleh seseorang yang datang dari Australia ke Selandia Baru, memilih tempat yang relatif aman untuk membuat sebuah pernyataan.

Jumlah korban jiwa penembakan masjid 50 orang

Kepolisian Selandia Baru mengonfirmasi bahwa hingga saat ini jumlah korban jiwa yang meninggal akibat serangan di masjid adalah 50 orang. Sedangkan sebanyak 42 orang masih dirawat di rumah sakit termasuk 2 orang yang mengalami kondisi kritis di mana salah satunya adalah seorang anak berusia 4 tahun.  PM Ardern menyatakan bahwa kebanyakan dari korban merupakan imigran dan pengungsi. Mereka yang meninggal dunia akibat luka tembakan berasal dari berbagai macam negara di dunia. Setidaknya ada 3 orang dari Bangladesh yang menjadi korban jiwa, 2 orang dari Indonesia yang merupakan ayah dan anak yang menjadi korban luka, sedangkan ada 3 orang dari Turki dan 4 orang Pakistan juga mengalami luka.

Kesaksian para korban selamat

Para korban selamat mengatakan bahwa pelaku penembakan mengenakan pakaian bergaya militer menghujani masjid dengan peluru. Seorang korban bernama Noor Hamzah (54) mengatakan bahwa dirinya berada di dalam Masjid Al Noor ketika penembakan terjadi, ia kemudian lari ke tempat parkir dan bersembunyi bersama dengan jamaah yang lain. Di antara yang berhasil kabur dari insiden merupakan beberapa anggota tim kriket dari Bangladesh  yang berencana bertanding dengan tim dari Selandia Baru pada hari Sabtu esoknya. Beberapa anggota tim yang selamat berucap di media sosial bahwa seluruh anggota tim selamat dan menggambarkan insiden sebagai peristiwa yang menakutkan.

Akan ada perubahan kepemilikan senjata di Selandia Baru

PM Ardern mengatakan bahwa di antara pelaku penembakan ada satu dalang utama yang merupakan warga negara Australia  yang menggunakan lima senjata api untuk melakukan penyerangan. Pelaku ini memiliki lisensi kepemilikan senjata api dan membeli senjata api secara legal. Untuk langkah selanjutnya Ardern berjanji akan melakukan perubahan terkait dengan aturan kepemilikan senjata api di Selandia Baru. Pelaku penembakan yang dianggap sebagai otak peristiwa teror  diamankan oleh polisi setempat 36 menit setelah polisi tiba. Di dalam mobil pelaku pun ditemukan alat peledak.

Pelaku melakukan live streaming via Facebook

Pria Australia tersebut yang kemudian diketahui beridentitas sebagai Brenton Tarrant (PM Ardern enggan menyebut namanya di depan media) sebelum melakukan penyerangan mengunggah konten berisi kebencian secara online, kemudian melakukan live streaming via Facebook untuk menayangkan penembakan. Video berdurasi 17 menit yang kemudian menyebar di media sosial ini langsung mendapatkan respon dari Facebook, Youtube, dan platform  media sosial lainnya untuk memblokir dan menghapus agar tidak tersebar makin luas dan ditonton makin banyak. Kepolisian Selandia Baru juga mendorong agar orang tidak tertarik untuk melihat video tersebut dan otoritasnya telah melakukan upaya untuk menghapus video yang masih beredar.

Baca Juga :

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here