6 Fakta Tentang Pelaku Penembakan Masjid Di Selandia Baru, Berubah Setelah Bepergian Ke Luar Negeri

Brenton Tarrant seorang pria kulit putih berusia 28 tahun yang berasal dari Australia disebut-sebut sebagai pelaku utama insiden penembakan di dua lokasi masjid di Selandia Baru hari Jumat (15/03) lalu. Brenton melakukan penembakan di Masjid Al Noor, sebuah masjid yang terletak di pusat kota Christchurch dengan menggunakan senjata laras panjang dan laras pendek sehingga menyebabkan puluhan orang meninggal dunia dan puluhan lainnya masih dirawat di rumah sakit. Polisi pun menemukan adanya alat dan bahan peledak di dalam mobil Tarrant sehingga kejadian ini dinyatakan sebagai insiden terorisme. Insiden teror ini merupakan yang pertama kalinya terjadi di Selandia Baru dan mencoreng citra Selandia Baru sebagai salah satu negara yang paling aman di dunia meski memiliki penduduk dengan berbagai macam ras. Berikut adalah fakta-fakta mengenai Brenton Tarrant.

1. Tidak masuk dalam daftar intelijen

Menurut pihak otoritas Selandia Baru, Tarrant tidak masuk dalam daftar pengawasan badan intelijen baik Australia maupun Selandia Baru. Tarrant juga tidak memiliki catatan kriminal, dan membeli senjata dengan legal karena ia memiliki lisensi untuk kepemilikan senjata api. Tarrant langsung didakwa dengan pasal pembunuhan ketika muncul di pengadilan setempat hari Sabtu (16/03) lalu dengan tuduhan melangsungkan penyerangan terhadap dua masjid di Christchurch  yang menewaskan 50 orang termasuk di antaranya adalah anak-anak. Mengenai alasannya untuk datang ke Selandia Baru dari Australia juga masih dicari jawabannya oleh badan intelijen, menurut Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern.

2. Seorang ekstremis pembenci muslim

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mendeskripsikan Tarrant sebagai seorang ekstrimis sayap kanan dan teroris yang mendukung kekerasan. Belakangan diketahui bahwa Tarrant adalah seorang pendukung dari orang-orang kulit putih nasionalis yang melakukan aksi kekerasan dan menyatakan keinginannya untuk “menciptakan atmosfer ketakutan” dan untuk “melakukan penghasutan kekerasan” terhadap kaum muslim. Beberapa pihak menyayangkan badan otoritas Australia maupun Selandia Baru yang gagal dalam mendeteksi potensi insiden teror melalui unggahan kebencian yang dilakukan sebagian orang di dunia online.

3. Sebelumnya tidak pernah terlibat tindakan kekerasan

Yang membuat otoritas Australia maupun Selandia Baru serasa “kecolongan” adalah karena tidak ada catatan kriminal maupun tindakan kekerasan yang pernah dilakukan atas nama Brenton Tarrant. Diketahui Tarrant sebelumnya tinggal di Australia selama 4 tahun dan hanya memiliki insiden lalu lintas kecil dalam catatannya. Ia bekerja sebagai pelatih pribadi di Big River Gym di kota Grafton, sekitar 500 km jaraknya dari Sydney. Tarrant kemudian sempat bepergian secara internasional termasuk ke Perancis di mana di sana ia mengklaim menyaksikan “invasi” dari para imigran. Selain itu Tarrant juga diketahui bepergian ke Pakistan, Turki, Bulgaria, dan berbagai macam negara Asia lainnya. Menurut pemilik gym tempatnya bekerja dan juga menurut neneknya, Tarrant dirasa mengalami perubahan perilaku setelah perjalanannya ke luar negeri.

4. Dideskripsikan sebagai orang yang “normal”

Tarrant tidak pernah menunjukkan perilaku yang bisa menarik perhatian badan intelijen maupun kaum ekstrimis sebelumnya. Bosnya di gym tempat ia bekerja mengatakan bahwa Tarrant adalah pegawai yang “normal senormal-normalnya orang” dan kaget karena orang yang bekerja dengannya setiap hari tanpa ada perilaku yang mencurigakan bisa melakukan tindakan seperti itu. Seorang pemilik hotel di Pakistan yang pernah jadi tempat menginap Tarrant mengatakan bahwa ia hanya seperti turis biasa yang menyukai makanan lokal, pergi dari hotel di pagi hari dan kembali setelah malam.

5. Mengunggah sebuah manifesto panjang secara online

Sebelum melakukan penyerangan, Tarrant mengunggah sebuah teks sepanjang 74 halaman secara online yang isinya antara lain adalah ujaran-ujaran mengenai pahamnya yang menentang imigran, mendukung ideologi neo-fasisme bahkan menyebut Candace Owens sebagai panutannya. Owens adalah seorang Amerika Serikat yang vokal dengan komentar-komentar konservatifnya. Profesor Greg Barton yang merupakan kepala politik Islam global di Institut Alfred Deakin menyatakan bahwa Tarrant memiliki karakter narsisme yang tidak sehat, karakter yang umum terdapat pada para teroris.

6. PM Ardern menolak untuk menyebut namanya

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menolak untuk menyebutkan nama pelaku penembakan di dua masjid di Christchurch karena pelaku memang sengaja untuk mencari ketenaran atas kejahatan yang dilakukannya. Menurutnya pelaku adalah seorang kriminal, seorang teroris dan ekstrimis namun ia akan disebutkan tanpa nama ketika Ardern membicarakan tentang dirinya. Ia juga mengimbau kepada masyarakat Selandia Baru lainnya untuk menyebutkan nama korban, bukan pelakunya.

Baca Juga :

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here